PEREMPUAN DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DI ABDYA
Istilah pemberdayaan perempuan dan gender menjadi istilah yang sangat populer akhir-akhir ini, namun istilah pemberdayaan perempuan bukanlah suatu konsep yang baru. Adanya istilah pemberdayaan perempuan adalah upaya untuk memberikan peranan yang lebih luas dan beragam, tidak hanya pada kegiatan-kegiatan social reproduktif dalam keluarga tapi juga adanya partisipasi perempuan dalam wilayah public dan pembangunan., upaya pemberdayaan perempuan dapat juga diartikan sebagai upaya untuk mengikis budaya patriarkis yang menyebabkan dominannya peran laki-laki segala bidang sehingga membuat perempuan tersingkir dan hanya kebagian peran untuk mengurus rumah tangga.
Berbicara mengenai posisi perempuan dalam masyarakat kita, tidak dapat dilepaskan dari pemahaman awal konsep gender. Pengertian gender berbeda dengan seks (jenis kelamin). Seks adalah perbedaaan jenis kelamin secara biologis, dan seks ini diperoleh semenjak lahir secara biologis sehingga tidak dapat dipertukarkan dan tidak dapat berubah antara laki-laki dan perempuan. Sedangkan gender adalah perbedaan kelamin terhadap suatu sikap dan perilaku yang merupakan bentukan dari social budaya dan masyarakat, karena bentukan masyarakat, maka gender tidak berlaku selamanya.
Di Indonesia dengan diratifikasinya Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan ( Covention On The Elimination of All Form of Diskrimination Againts Women- CEDAW) pada UU No.7 tahun 1984. yang telah menjadi dasar untuk pembentukan produk-produk hukum (UU) yang memperhatikan kepentingan perempuan namun untuk membentuk kesadaran perempuan untuk ikut secara partipatif dalam pembangunan tidak cukup dengan produk UU saja, diperlukan juga kerja keras semua pihak (terutama perempuan sendiri) untuk mensosialisasikan dan memperjuangkan hak-hak perempuan untuk dapat ikut serta dalam pembangunan tanpa adanya diskriminasi dan pembatasan terhadap akses-akses sumberdaya ekonomi dan modal kerja, sebab kita tahu bahwa ada perempauan yang menjadi kepala rumah tangga, bagimana nasib keluarganya jika akses kehidupan tersebut tertutup baginya dikarenakan dia seorang perempuan.
Permasalahan-permasalah perempuan dalam memberdayakan dirinya
Kesenjangan gender di dalam kehidupan masyarakat dilihat dari rendahnya peluang yang dimiliki oleh perempuan untuk mendapatkan akses terhadap sumberdaya ekonomi, pendidikan , informasi dan modal kerja. Padahal, diakui atau tidak perempuan mempunyai andil yang besar dalam memberikan kontribusi penghasilan dan kesejahteraan keluarga. Selain itu budaya hukum yang terdapat didalm masyarakat juga masih kurang mendukung terwujudnya keseteraan dan keadilan bagi kaum perempuan, keadaan ini antara lain ditandai dengan masih rendahnya penanganan hukum terhadap kasus yang menimpa kaum perempuan, dan diperburuk pula oleh masih terbatasnya keterlibatan perempuan dalam proses pengambilan keputusan dalam kebijakan public di dalam lembaga-lembaga legislative, eksekutif dan yudikatif.
Khususnya di abdya, tidak ada keterwakilan perempuan di dalam lembaga legislative, juga menjadi hal yang aneh, sebab dalam pemilu pemilihan anggota legislative, jumlah suara pemilih perempuan mampu menyaingi jumlah suara pemilih laki-laki, tapi mengapa tidak ada perempuan yang menjadi anggota legislative? Apakah karena memang ketidakmampuan perempuan terlibat dalam politik praktis atau memang perempuan tidak diberikan kesempatan untuk menjadi wakil dari kaumnya sendiri atau yang lebih parah lagi tidak adanya kesadaran kaum perempuan untuk memilih wakilnya di lembaga legislative dan lebih menggantungkan harapan kepada kaum lelaki dalam memperjuangkan aspirasi kaum perempuan? Hasilnya?..Konsep-konsep pemberdayaan perempuan hanya menjadi komoditi politik oleh elit politik yang hanya mempunyai kepentingan praktis sehingga konsep pemberdayaan sering hanya menjadi wacana tanpa terwujud menjadi aksi yang nyata.
Kita akui meskipun ada perempuan menikmati tingkat kemapanan ekonomi yang tinggi dan menduduki posisi strategis di sector public dan swasta, namun dalam konteks local (abdya) kenyataan tersebut sangat jauh dari kenyataan karena mayoritas perempuan di abdya hanya dikategorikan sebagai kelompok yang pasif, kelompok yang hanya menerima segala sesuatunya tanpa harus ada keterlibatan secara langsung.
Pemberdayaan dan penyadaran diri
Permasalahan-permasalahan yang disajikan di atas sepatutnya menjadi renungan kita semua, dalam usaha untuk memperbaiki posisi dan peran perempuan abdya, sudah saat nya kaum perempuan di abdya untuk merapatkan barisan menyusun strategi agar perempuan dapat di libatkan di segala bidang dalam membangun abdya, dan bagaimana perempuan mempunyai bargaining politik sehingga tidak hanya menjadi komoditi politik yang di manfaatkan oleh kelompok politik praktis yang hanya membutuhkan suara perempuan tanpa membutuhkan konstribusi aktif perempuan dalam politik.
Maka, untuk meningkatkan peran perempuan harus melalui penguatan kapasitas, penguatan kapasitas adalah strategi yang dilakukan untuk menambah kapasitas, kemampuan dan ketrampilan untuk berpartisipasi dalam wilayah public. Sedangkan kapasitas yang di kuatkan adalah pengetahuan, pengorganisasian, keahlian individu, dan jaringan kerja. Hal ini dapat dilakukan dengan pendidikan popular baik berupa seminar, diskusi antar perempuan, diskusi dalam kelompok pengajian,workshop dan lain-lain.
Dalam mensosialisasikan wacana gender memang hal yang sangat sulit dan dilematis karena harus berhadapan dengan konsep-konsep budaya patriarkis yang telah terkelola sehingga rentan akan praktek diskriminatif yang sistematis terhadap perempuan. Namun dengan pendekatan sosio-kultural dan sosialisasi wacana gender yang gigih serta tidak bertentangan dengan agama, mungkin akan dapat merubah secara perlahan-lahan akan pandangan terhadap peran perempuan dalam pembangunan yang diharapkan akan bisa mengimbangi konsep-konsep budaya patiarkis yang mendominasi peran dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan. Sehingga timbul harmonisasi hubungan antara laki-laki dan perempuan, dengan bahu membahu dan saling mengisi kekurangan antara perempuan dan laki-laki untuk membangun masyarakat yang adil dan sejahtera.
Dan yang paling penting, yang harus kita pahami adalah wacana gender bukanlah suatu refleksi dari gugatan apalagi pemberontakan kaum perempuan terhadap laki-laki. Sehingga membuat perempuan menjadi male clone (tiruan laki-laki). Namun suatu refleksi terhadap fitrah manusia yang diciptakan untuk saling melengkapi antara laki-laki dan perempuan dengan saling memberi kesempatan untuk berkembang dan mengembangkan kemampuannya masing-masing. Dan dengan adanya penyadaran diri dari perempuan akan hak-hak dan kewajibannya, maka praktek usang tentang ekploitasi wanita, kekerasan terhadap wanita dan lain-lain dapat diminimalisir.
Aku bercita-cita…jadi GOLPUT…
Golput kok dijadiin cita-cita…aneh ya cita-citaku, tapi apa daya, aku telah menggantungkan cita-citaku untuk menjadi seorang golput di pemilu 2009.
aku mencoba mencari akar pemasalahan di dalam diriku sehingga aku mempunyai cita-cita untuk menjadi golput. Maka aku membuat pertanyaan berikut in:
1. Apakah aku ingin ikut-ikutan golput.
2. apakah karena ingin keren di mata orang di kampungku yang masih asing dengan istilah golput sehingga aku kelihatan jadi sosok yang intelek di mata mereka,
3. atau mungkin aku muak dengan hasil pesta demokrasi yang diadakan setiap 5 tahun sekali itu…
Pilihan terakhir mungkin yang masuk di akalku yang agak kurang sehat ini, hampir 5 tahun berlalu semenjak pemilu yang sakral banget itu,setiap hari diriku merasa berdosa karena telah ikut memilih orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak tau malu.
Mengapa mereka tidak bertanggung jawab…aku juga tidak tau mengapa, tapi yang jelas, semenjak mereka tepilih menjadi anggota dewan yang terhormat itu, tidak ada manfaat bagi ku, karena mereka lebih memikirkan manfaat bagi diri mereka sendiri..
Mengapa mereka tidak tau malu?…ini juga agak susah aku menjawabnya, tapi yang jelas, mereka bisa membuat bangkrut daerah. Setelah mendapat gaji yang berjuta-juta itu,selalu ingin mendapatkan tunjangan ini dan tunjangan itu, studi banding ini,studi banding itu, maen proyek ini dan maen proyek itu.
Ah…lupakan aja omong kosong ini…..
kehormatan
bangsa kita adalah bangsa yg terhormat. Mungkin kita cm bisa mengucapkan tanpa tau makna kehormatan itu sendiri, dan kita tau itu. Alkisah , suatu bangsa yang pernah hidup di negeri entahlah ini…rakyatnya adalah para makhluk yang mengangkat dirinya sebagai makhluk yang penuh kehormatan. rakyatnya hidup dalam kehormatan yang harus dipaksakan pada setiap orang,walau yang harus dihormati adalah koruptor,pencuri aset negara, provokator yang suka mengadu domba rakyat untuk bertikai yang mereka pilih untuk menjadi para pemimpin diantara mereka. korupsi, mencuri aset negera dan memprovokasi rakyat untuk saling bertikai adalah kehormatan,karena dengan kehormatan dpt meningkatkan status sosial. untuk itu, jangan pernah korupsi kecil2an,jangn pernah mencuri hanya untuk menyambung hidup, jangan pernah menjadi provokator yang membela orang2 tertindas karena itu adalah suatu kehinaan,kehinaan dilarang oleh undang-undang, melanggar uu adalah kajahatan dan pelaku kejahatan harus dihukum!! Dan kini mereka merencanakan untuk mengobarkan perang suci,yaitu perang melawan moralitas. Karena moral adalah sumber dari kebaikan yang dapat menyebabkan hilangnya kehormatan. Apa bedanya?menurut seorang kawan yang ahli fiksi,beda’a adalah mereka(bangsa di negeri entahlah) mengerti ttg kehormatan,kehormatan adalah yang mereka yakini benar tanpa harus bersifat hiprokrit,sedangkan yang kita yakini adalah moralitas yang beorientasi kebaikan yang hipokrit..berlomba-lomba korupsi untuk menyantuni kaum duafa supaya dicap orang yang berbudi, berlomba-lomba korupsi untuk modal naik haji agar dicap orang suci dan masuk ke golongan orang yang bakal masuk surga,berlomba-lomba menjual ayat suci agar dicap politisi yang membela agama, padahal cuma cari kursi tuk modal jd anggota dewan yang terhormat..atau memprokasi rakyat demi memelihara hegemoni kelompok dengan alasan intergritas bangsa. Inilah kehormatan…
Pemilu 2009, untuk siapa?……….
2009 Pemilu!!!…legislative sibuk dengan aturan main, parpol sibuk dengan verifikasi, kader sibuk mengumpulkan katepe dukungan, rakyat pusing mikirin harga BBM naik yang juga berbuntut pada kenaikan harga barang-barang kebutuhan sehari2, FPI dan Ahmadiyah sibuk berkoar-koar untuk menjustifikasi aksi atas nama agama….sedangkan aku sibuk mikirin nasib menjadi pengangguran!!!!
Aku adalah orang bodoh yang melihat Negara ini makin hari makin brengsek, pejabat yang korup, legislative yang bermental buruk, pendidikan yang bobrok (saking bobroknya gurupun di cap teroris), Kemiskinan, konflik SARA, ketidak adilan pembangunan. Negara ini membuat aku merinding.
Pemilu sebagai harapan ku terciptanya terciptanya good government, pemerintahan yang bersih, jujur, berwibawa, membawa kemakmuran malah menjadi Negara gudang perampok, tukang hisap darah rakyat, feodalisme millennium yang banyak menciptakan penguasa yang brengsek…..
Kesimpulanku adalah pemilu adalah untuk orang berengsek yang ingin berkuasa. Pemilu adalah proses yang mementingkan libido sekelompok orang yang “konak” berkuasa. Jadi apa untungnya pemilu bagi rakyat kecil seperti aku?….

otak kontaminasi belatung
Tau deh, dah lama ga apdet lagi ne blog…belakangan ne dah goblok trus, ampe mo ganti nama jadi mr.goblok…
pendidikan…….

Anak merupakan aset bangsa, sebagai bagian dari generasi anak berperan sangat strategis sebagai generasi penerus suatu bangsa. Peran strategis ini disadari oleh masyarakat internasional untuk melahirkan sebuah konvensi yang intinya menekankan posisi anak sebagai makhluk manusia yang harus mendapatkan perlindungan atas hak-hak yang dimilikinya. Indonesia merupakan salah satu dari 192 negara yang telah meratifikasi Konvensi Hak Anak (Convention on the Right of the Children) pada tahun 1990. Dengan meratifikasi konvensi ini, Indonesia memiliki kewajiban untuk memenuhi hak-hak anak bagi semua anak tanpa kecuali, diperkuat dengan adanya UU no. 23 th 2002 (Undang-Undang Tentang Perlindungan Anak) membuktikan bahwa keberadaan dan perkembangan anak sebagai penerus bangsa harus dilindungi dan diperhatikan secara serius.
Namun dalam kenyataannya, perlindungan terhadap hak-hak anak seringkali terabaikan, salah satu masalah yang merupakan pengabaian dan bersifat diskriminatif terhadap hak anak adalah tidak meratanya pembangunan sarana dan prasarana pendidikan terhadap anak yang berada di desa-desa yang tertinggal, di karena sarana pendidikan hanya terfokus pada daerah-daerah yang dianggap lebih maju. sehingga membuat anak-anak yang berada didesa-desa tertinggal makin tertinggal dan menjadi tidak terjamin masa depannya. Kemudian keterbatasan sarana dan prasarana transportasi serta informasi juga menjadi masalah, di bidang transportasi, ada daerah tertinggal yang mempunyai lembaga pendidikan sekolah, namun hanya setingkat sekolah dasar, sehingga apabila mereka ingin melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi, mereka harus keluar dari desanya, sehingga otomatis orangtuanya harus mengeluarkan uang yang lebih banyak untuk anak-anak yang ingin melanjutkan sekolah, sehingga berimbas pada masalah ekonomi keluarga. Sedangkan di bidang informasi, karena keterbatasan informasi yang di dapat oleh orang tua, membuat mereka masih belum begitu mengerti tentang pentingnya pendidikan bagi anak apalagi perlindungan hak-hak anak, sehingga anak-anak yang berada di desa-desa tertinggal rentan akan praktek pelanggaran terhadap hak-hak anak. Ditambah dengan tidak lancarnya proses belajar anak didik di karenakan kemalasan gurunya untuk datang ke sekolah yang terpencil. Sehingga penyerapan pendidikan menjadi rendah dan tidak sesuai dengan kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh anak.
Di Abdya, tanah kelahiranku yang kucintai ini (walau kadang kubenci), juga mengalami permasalahan-permasalah yang sama, tidak bermaksud menuduh atau memfitnah, namun untuk Aceh dengan porsi dana pendidikan yang begitu besar, pendidikan tetap tidak menjadi “PR” yang harus diprioritas kan. Pemda seakan tidak peduli dengan permasalahan di bidang pendidikan yang di hadapi oleh rakyat miskin yang ada di Abdya, terbukti dengan tidak adanya inisiatif dari pemda untuk mencari solusi bagi peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan di abdya. Sehingga masih banyak anak yang terlantar pendidikannya, berakibat anak menjadi putus sekolah, menjadi pekerja anak, malah ada yang jadi pengemis.
Yang lebih menarik adalah ada anak-anak yang menjadi peminta sumbangan dengan dalih bantuan pembangunan mesjid ataupun bantuan pembangunan pesantren pada waktu yang seharusnya mereka berada di ruangan kelas untuk belajar…. Astagfirullah, yang lebih menggelikan, pemda hanya tutup mata dengan fenomena tersebut, seakan-akan anak –anak yang mencari bantuan untuk mesjid ataupun pesantren merupakan hal yang wajar dan tidak berusaha untuk mencegahnya.
Ops!!! Hamper lupa……
Tanggal 3 september yang lalu, di Abdya juga memperingati hari pendidikan daerah (hardikda), mengharukan, peringatan tersebut diwarnai dengan pemberian penghargaan kepada 26 guru yang telah memasuki masa pensiun dan kepada 4 orang siswa berprestasi. Mengharukan karena adanya apresiasi terhadap guru yang telah mengabdikan diri dan juga adanya apresiasi kepada siswa yang berprestasi. Namun lebih mengharukan lagi karena setelah seremonial tersebut, pendidikan tetap menjadi omong kosong dalam memperingati hari pendidikan. Nasib guru tidak seperti yang di jadikan seremonial yang hanya akan menyenangkan para guru sesaat, seakan-akan nasib para guru selalu diperhatikan. Faktanya, banyak yang berpredikat sebagai pendidik, memilih menjadi seorang birokrat ketimbang seorang guru. Menjadi guru tidak akan membuat status sosial menjadi bergengsi, namun menjadi birokrat dapat membuat status sosial yang bergengsi.
Nasib anak didik atau siswa juga tidak seperti yang di gambarkan dalam acara seremonial tersebut, khusus untuk anak didik, penghargaan hanya di berikan kepada siswa yang berprestasi, bagaimana dengan penghargaan terhadap siswa yang tidak mampu dan masyarakat miskin yang kurang tersentuh oleh yang namanya pendidikan. Ironisnya terhadap siswa yang tidak mampu hanya di berikan penghargaan dengan pungutan-pungutan dan beban-beban yang mencekik leher para orang tua siswa.
“Selamat hari Pendidikan Daerah, dengan memperingati hari pendidikan daerah kita kita jadikan momentum untuk meningkatkan mutu pendidikan, menyongsong masa depan yang cerah dan masyarakat yang sejahtera”…. begitu kira2 pidato penyambutan dalam memperingati hari pendidikan daerah, walaupun aku hanya mengira-ngira, he.he.he….tapi mungkin jika kita mengikuti semua acara seremonial yang dilakukan oleh birokrat pasti yang terbayang pasti seperti yang dideskripsikan diatas tersebut.
Ah…biarlah, kita lupakan aja omong kosong itu…
#catatan jempol:
pulang dari warnet, semalam ‘gabung” ma “parte” kebaca koran edisi 5/9/07; yang judulnya ” Dalih Bayar Bangku Dan Guru, Siswa Abdya Dipungli” lebih kurang isinya begini: “Lembaga pendidikan di Aceh Barat Daya kembali digegerkan dengan pungli. Setelah jatah kue guru dipotong, kini berdalih membayar bangku dan kelebihan honor guru para siswa SMA Negeri 1 Manggeng harus membayar Rp15.000 per bulan.
Pungutan yang sudah berlangsung selama dua bulan itu tersebut dirasakan berat para orang tua siswa/wali murid. Bahkan ada siswa yang mengamuk di ruang guru karena merasa tidak mampu membayar kewajiban yang dikeluarkan oleh pihak sekolah”. ……
busyeeeeetttt!!!!!! …………………..
tuk mee
Mee……aku mencintai hidupku ketika matahari terbit dengan gagahnya di ufuk timur, kadang aku mencintai dan membenci hidupku ketika matahari ditutup oleh mendung, kadang aku sangat membenci hidupku ketika matahari membakar bumi dengan sombongnya, dan aku akan meratapi hidupku ketika matahari tenggelam di telan tepian ujung dunia.
Mee….romantika percintaan itu sering menyakitkan hati, semua perasaan, cinta, benci, senang, sedih selalu membayangi. Terus terang aku bingung dari mana datangnya cinta dan benci, disaat kita merasa saling memiliki, rasa cinta menggila menjadi keindahan yang tiada duanya di dunia ini, tapi disaat kita tidak lagi merasa memiliki, rasa benci menggila menjadi gelombang dahsyat yang menghancurkan semua yang ada.
Mee……untuk apa mencinta kalo harus menjadi membenci?….
Mee….mungkin belakangan ini aku terlalu bersemangat untuk mencinta, tapi aku sangat takut untuk membenci, karena aku bisa mencintai selama hayatku tapi aku juga bisa membenci selama hayatku. Aku berpikir, wajar aku bersemangat untuk mencintamu, karena aku memang ingin mencintamu selama hayatku, dan aku tidak ingin untuk membencimu.
Mee….. keraguan adalah fitrah kita sebagai manusia, begitu juga keraguan yang membersit di hatimu, namun sikap meragu sering membuat kita dipermainkan oleh hidup, dengan sikap meragu kita hanyalah oportunis yang mencari kenikmatan hidup bukan sebagai manusia yang mencari kenikmatan hakiki. Karena bagiku, atau bagi siapa saja yang tidak ingin meragu, kepedihan dari sikap tidak meragu adalah pelajaran dalam menempa diri.
Mee…..jika kamu berbelas kasihan kepadaku, maka janganlah menyebut berbelas kasihan, karena aku tidak ingin belas kasihanmu, karena aku tidak membawa belas kasihanku kepadamu, aku hanya membawa kasih dan sayangku untukmu. Aku tidak ingin takdirku membawa orang yang berbelas kasihan kepadaku, dan mereka bisa membawa belas kasihanya kepada orang lain dan itu untuk orang yang menderita.
Mee….pernikahan, demikian keinginan ku merupakan keinginan dari dua orang untuk menciptakan kehendak untuk membagi rasa cinta, kesenangan dan penderitaan. Rasa hormat terhadap satu sama lain, sebagai orang yang melaksanakan kehendak itu, itulah yang kusebut pernikahan.
Mee….semoga kita sedang melalui proses yang pasti bukan merupakan proses keragu-raguan kita……
Mee….aku ingin mencintai hidup mu seperti aku mencintai hidup ku ketika matahari terbit dengan indahnya di ufuk timur…
Mee….itu doaku……..
capeeeee dehhhhhhh
jadi juga…akhirnya…..jadi deh ne barang….lama kuidam-idamkan tuk buat blog…tapi karena mang goblok,jadi tertunda-tunda deh…karena memang kupikir hidup lebih indah dengan memplototi artis-artis sinetron, dan dengerin musik di mtv, karena menurut para ahli yang bijak, nonton sinetron dan dengerin mtv bisa merangsang otak agar jadi pinter, tapi yang terangsang kok otak “bawah” ya…..jadi tambah pinter, liat dikit aja dah sensitif……trus coba cari pelarian, ingat kawan yang namanya “alex yang keren dan bersahaja”…keren, karena anaknya mang keren…bersahaja, karena emosinya yang kadang ga terkontrol dan meledak meletup….galak loen bak gata…..huekkssssss!!!!!!!…yang kemudian mengajari aku buat blog dengan penuh ketidaksabarannya…he.he.he….bro, andai aq punya grup metal musick,rekaman trus keluarin album…thank’s nya pasti buat bro alex doank…tapi sayang aku ga punya itu semua,respek aku lewat blog aja yah……trus aku juga teringat kalo kamu juga pernah mencap orang lain sebagai “amunisi”, jadi terharu dan memuakkan, karena yang semua pernah kita cap sebagai amunisi ternyata cuma opportunis sejati, semoga itu ga terjadi sama cap amunisi mu ya…..trus,dari kegoblogkan jadilah blog ini,”ga usah ngomong propaganda deh” begitu katanya..tenang bro, “propaganda” hanya sekedar kalimat hebat-hebatan, bolehkan kalo pengen sekadar di cap hebat…..he.he.he…….walaupun memang ga ngerti “kontaminasi propaganda” itu apa….capeeee deeeeh…..


