pendidikan…….

Anak merupakan aset bangsa, sebagai bagian dari generasi anak berperan sangat strategis sebagai generasi penerus suatu bangsa. Peran strategis ini disadari oleh masyarakat internasional untuk melahirkan sebuah konvensi yang intinya menekankan posisi anak sebagai makhluk manusia yang harus mendapatkan perlindungan atas hak-hak yang dimilikinya. Indonesia merupakan salah satu dari 192 negara yang telah meratifikasi Konvensi Hak Anak (Convention on the Right of the Children) pada tahun 1990. Dengan meratifikasi konvensi ini, Indonesia memiliki kewajiban untuk memenuhi hak-hak anak bagi semua anak tanpa kecuali, diperkuat dengan adanya UU no. 23 th 2002 (Undang-Undang Tentang Perlindungan Anak) membuktikan bahwa keberadaan dan perkembangan anak sebagai penerus bangsa harus dilindungi dan diperhatikan secara serius.
Namun dalam kenyataannya, perlindungan terhadap hak-hak anak seringkali terabaikan, salah satu masalah yang merupakan pengabaian dan bersifat diskriminatif terhadap hak anak adalah tidak meratanya pembangunan sarana dan prasarana pendidikan terhadap anak yang berada di desa-desa yang tertinggal, di karena sarana pendidikan hanya terfokus pada daerah-daerah yang dianggap lebih maju. sehingga membuat anak-anak yang berada didesa-desa tertinggal makin tertinggal dan menjadi tidak terjamin masa depannya. Kemudian keterbatasan sarana dan prasarana transportasi serta informasi juga menjadi masalah, di bidang transportasi, ada daerah tertinggal yang mempunyai lembaga pendidikan sekolah, namun hanya setingkat sekolah dasar, sehingga apabila mereka ingin melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi, mereka harus keluar dari desanya, sehingga otomatis orangtuanya harus mengeluarkan uang yang lebih banyak untuk anak-anak yang ingin melanjutkan sekolah, sehingga berimbas pada masalah ekonomi keluarga. Sedangkan di bidang informasi, karena keterbatasan informasi yang di dapat oleh orang tua, membuat mereka masih belum begitu mengerti tentang pentingnya pendidikan bagi anak apalagi perlindungan hak-hak anak, sehingga anak-anak yang berada di desa-desa tertinggal rentan akan praktek pelanggaran terhadap hak-hak anak. Ditambah dengan tidak lancarnya proses belajar anak didik di karenakan kemalasan gurunya untuk datang ke sekolah yang terpencil. Sehingga penyerapan pendidikan menjadi rendah dan tidak sesuai dengan kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh anak.
Di Abdya, tanah kelahiranku yang kucintai ini (walau kadang kubenci), juga mengalami permasalahan-permasalah yang sama, tidak bermaksud menuduh atau memfitnah, namun untuk Aceh dengan porsi dana pendidikan yang begitu besar, pendidikan tetap tidak menjadi “PR” yang harus diprioritas kan. Pemda seakan tidak peduli dengan permasalahan di bidang pendidikan yang di hadapi oleh rakyat miskin yang ada di Abdya, terbukti dengan tidak adanya inisiatif dari pemda untuk mencari solusi bagi peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan di abdya. Sehingga masih banyak anak yang terlantar pendidikannya, berakibat anak menjadi putus sekolah, menjadi pekerja anak, malah ada yang jadi pengemis.
Yang lebih menarik adalah ada anak-anak yang menjadi peminta sumbangan dengan dalih bantuan pembangunan mesjid ataupun bantuan pembangunan pesantren pada waktu yang seharusnya mereka berada di ruangan kelas untuk belajar…. Astagfirullah, yang lebih menggelikan, pemda hanya tutup mata dengan fenomena tersebut, seakan-akan anak –anak yang mencari bantuan untuk mesjid ataupun pesantren merupakan hal yang wajar dan tidak berusaha untuk mencegahnya.
Ops!!! Hamper lupa……
Tanggal 3 september yang lalu, di Abdya juga memperingati hari pendidikan daerah (hardikda), mengharukan, peringatan tersebut diwarnai dengan pemberian penghargaan kepada 26 guru yang telah memasuki masa pensiun dan kepada 4 orang siswa berprestasi. Mengharukan karena adanya apresiasi terhadap guru yang telah mengabdikan diri dan juga adanya apresiasi kepada siswa yang berprestasi. Namun lebih mengharukan lagi karena setelah seremonial tersebut, pendidikan tetap menjadi omong kosong dalam memperingati hari pendidikan. Nasib guru tidak seperti yang di jadikan seremonial yang hanya akan menyenangkan para guru sesaat, seakan-akan nasib para guru selalu diperhatikan. Faktanya, banyak yang berpredikat sebagai pendidik, memilih menjadi seorang birokrat ketimbang seorang guru. Menjadi guru tidak akan membuat status sosial menjadi bergengsi, namun menjadi birokrat dapat membuat status sosial yang bergengsi.
Nasib anak didik atau siswa juga tidak seperti yang di gambarkan dalam acara seremonial tersebut, khusus untuk anak didik, penghargaan hanya di berikan kepada siswa yang berprestasi, bagaimana dengan penghargaan terhadap siswa yang tidak mampu dan masyarakat miskin yang kurang tersentuh oleh yang namanya pendidikan. Ironisnya terhadap siswa yang tidak mampu hanya di berikan penghargaan dengan pungutan-pungutan dan beban-beban yang mencekik leher para orang tua siswa.
“Selamat hari Pendidikan Daerah, dengan memperingati hari pendidikan daerah kita kita jadikan momentum untuk meningkatkan mutu pendidikan, menyongsong masa depan yang cerah dan masyarakat yang sejahtera”…. begitu kira2 pidato penyambutan dalam memperingati hari pendidikan daerah, walaupun aku hanya mengira-ngira, he.he.he….tapi mungkin jika kita mengikuti semua acara seremonial yang dilakukan oleh birokrat pasti yang terbayang pasti seperti yang dideskripsikan diatas tersebut.
Ah…biarlah, kita lupakan aja omong kosong itu…
#catatan jempol:
pulang dari warnet, semalam ‘gabung” ma “parte” kebaca koran edisi 5/9/07; yang judulnya ” Dalih Bayar Bangku Dan Guru, Siswa Abdya Dipungli” lebih kurang isinya begini: “Lembaga pendidikan di Aceh Barat Daya kembali digegerkan dengan pungli. Setelah jatah kue guru dipotong, kini berdalih membayar bangku dan kelebihan honor guru para siswa SMA Negeri 1 Manggeng harus membayar Rp15.000 per bulan.
Pungutan yang sudah berlangsung selama dua bulan itu tersebut dirasakan berat para orang tua siswa/wali murid. Bahkan ada siswa yang mengamuk di ruang guru karena merasa tidak mampu membayar kewajiban yang dikeluarkan oleh pihak sekolah”. ……
busyeeeeetttt!!!!!! …………………..


