Rindu stadium 1……
Rindu stadium 1, tuk pulang kampung, kampung halaman tercinta itu….
Bak katak dalam tempurung lainnya, 18 tahun….menghabiskan masa kecil sampai tamat pendidikan yang paling tinggi dan tertinggi di kampung ku itu, malah saking tingginya pendidikan, banyak kawan-kawan yang membenamkan impian di Lumpur sawah dengan mencapai cita-cita menjadi petani tanpa gelar sarjana pertanian itu; mengkalkulasi masa depan dengan berdagang kecil-kecilan tanpa gelar sarjana ekonomi itu; atau menjadi penggangguran yang kerjanya mocok-mocok yang memang tanpa membutuhkan gelar apa-apa itu karena impian tidak mempunyai kesempatan untuk mengecap yang namanya bangku kuliah.
Tapi itulah kampung tercinta ku, kampung yang kukenal sebagai kampung yang ramah, kampung di kaki bukit dan pantai yang indah, kampung yang ketika kami ketahuan iseng menghisap ganja di pinggiran jalan yang kemudian lari tunggang langgang, karena direpeti oleh Pak Polisi yang kebetulan melintas, tanpa ada niat untuk menangkap kami. Sungguh!!! Mungkin pak polisi itu maklum kami Cuma segerombolan anak nakal yang mencoba menghabiskan kenakalannya pada waktunya. Kampung yang jauh dari hiruk pikuk politik kambing hitam dan politik barbar ala Machiavelli itu, kampung yang santun, kampung yang mayoritas penduduknya berdagang dan petani yang mencari rezeki yang halal dengan bekerja keras dan mungkin yang menjadi setitik nila dalam sebelanga susu itu, Cuma bajingan kecil norak semodel kami yang suka menyalahgunakan daun ganja yang seharusnya menjadi bumbu masak, menjadi lintingan dan iseng mengisapnya di pinggir jalan dengan mencuri-curi waktu sehabis pulang mengaji, sumpah!!! Cuma untuk gagah-gagahan (dan terbukti tampak tolol) dan tidak sampai menjadi Bandar narkoba yang di KTP-nya bertuliskan pekerjaan: pengedar narkoba!!! (ada ga’ ya KTP model gitu?J ), atau cuma huru-hura bentrok antar kampung yang karena salah paham namun selalu di selesaikan secara adat dengan denda seekor kambing atau kerbau. Seingatku semua permasalahan sosial di kampung selalu diselesaikan secara adat, Kampung yang eksistensinya dan harmonisasi kehidupannya di jaga oleh adat yang mendarah daging.
Indahnya kampung ku itu………………
Sekarang, bertahun-tahun setelah “memerdekan diri” dari Kabupaten induk dengan harapan dapat memberikan manfaat dengan percepatan pembangunan dan peningkatan ekonomi yang akan membuat kampungku nampak modern dan makmur alias tidak ketinggalan dari daerah lain, terutama dengan kabupaten induk.
Dan itu terbukti, kampungku telah modern, tempat kuliah telah ada, jadi ada kesempatan untuk meraih gelar-gelar itu, walaupun gelar itu di dapat dari agen-agen pendidikan yang mendirikan “perusahaan” atas ama pendidikan, dan pendidikan untuk rakyat miskin tetap tidak ada. Tidak ada lagi anak nakal iseng yang mengisap ganja di pinggir jalan, karena bakal di tangkap oleh para penegak hukum yang berpakaian ala kontra teroris dan dengan resiko menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam penjara karena selinting ganja tak seberapa itu, sekarang yang ada Cuma “orang tua” nakal yang bebas berkeliaran memasok shabu, ekstasi dan narkoba jahanam lainnya itu. Para politisi juga tumbuh bak cendawan di musim hujan, mengaku politisi rakyat, berjuang atas nama rakyat itu juga telah piawai dalam memainkan politik kambing hitam dan tipu daya menghalalkan segala cara sampai nama Tuhan pun di bawa ke pentas kampanye.
Semua permasalahan social di kampungku tidak lagi diselesaikan secara adat, karena adat adalah “sejarah” masa lalu yang usang dan kuno (dan tempatnya hanya di lembaran-lembaran buku pelajaran sejarah untuk anak sekolah atau pengantar hukum adat bagi mahasiswa), dan sekarang semua permasalahan diselesaikan oleh beking-beking bajingan itu yang mengaku mantan kombatan atau polisi atau tentara atau jaksa atau hakim…sama saja…..dan sungguh kampung ku tidak ramah lagi….
Dikampungku juga telah berdiri gedung-gedung Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif, yang katanya mengadopsi Trias Politika-nya Montesqiu, Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif…hhmmm, nama yang luar biasa intelek bagi lembaga raja-raja baru yang norak itu. Penguasa dan kroninya mirip raja dan priyayi peliharaan Kolonial Belanda yang memiliki gaya hidup penuh dengan kemewahan, bikin rumah gedong, pamer mobil baru, “trend” tidur dan berejakulasi dengan orang yang bukan muhrimnya atau “sekedar” berakhir pekan dengan “parkir” ditempat lokalisasi yang berada di provinsi tetangga. Raja dan priyayi-priyayi itu Seakan-akan dengan congkak dan menepuk dadanya mereka berkata “aku tidak takut dengan Tuhan, karena ada kekuasaan dan harta kekayaanku dan aku tidak akan kehilangan kekuasaan dan hartaku, selama aku bisa menyogok siapa yang mengganggu kekuasaan dan hartaku, baik itu BPK, KPK, Inspektorat, Polisi, Jaksa, atau Hakim”.
Membuatku teringat oleh “makian” si “Suci” Zarathustra, “Dulu kalian adalah kera dan sekarang pun manusia lebih kera daripada kera manapun”. Walaupun aku bukan penganut teori Darwin, tapi aku sepakat dengan si “suci” itu, dan semakin modern manusia telah menciptakan manusia lebih kera daripada kera manapun dan jangan-jangan suatu saat timbul “teori evolusi” kera berasal dari manusia? (astagfirullah, semoga kita semua terhindar dari teori evolusi jahanam itu!!!).
Sungguh…aku rindu stadium 1, ingin pulang kampung, karena dikampung ku masih “tersisa” manusia-manusia yang ramah, yang mempunyai idealisme dan kehormatan untuk tidak ikut-ikutan menjadi “manusia lebih kera daripada kera”, masih “tersisa” pribadi-pribadi yang selalu bersyukur dan selalu teguh memegang prinsip yang penting halal, masih “tersisa” orang tua yang baik serta bijak dan bukan orang tua “nakal” yang menjadi gembong narkoba itu, masih “tersisa” kawan-kawan yang selalu mengobarkan perang melawan dan berusaha menyingkirkan dominasi “manusia yang lebih kera dari kera” itu.
…sumpah mati…aku rindu stadium 1, aku ingin pulang………



alex© berkata,
Rabu, 24 Desember 2008 pada 21:25
Pulanglah….
Kau akan lihat kalau bukit di kawasan Gunung Kila nyaris botak utk jadi gedung DPRK yang megah itu.
Kau akan lihat baliho2 politikus muda yang tak segan masuk partai para jendral agar lebih mudah tawar-menawar di gedung parlemen.
Pulanglah… tapi jangan lupa, bawa seagate 160GB pesananku
ballz7 berkata,
Kamis, 25 Desember 2008 pada 18:34
Gunung kila, semoga tidak menjadi gunung penuh dosa tempat berkumpulnya para pendosa yang hobinya memperkosa rakyat dengan ayat-ayat regulasi jahanam itu.
Baguslah yang muda masuk parlemen, terserah pake partai apa, yang muda lain, siap-siap aja sediain telor ayam busuk, tai kebo, tai ayam, dan tai-tai lain, begitu mereka jadi penghianat rakyat (lagi) tinggal kita lempari aja pake tai-tai itu…
seagate 160 GB ya….iya deh
Pulkam « Kontaminasi Propaganda berkata,
Senin, 12 Januari 2009 pada 23:55
[...] rindu stadium 1 kemarin itu [...]