Pulkam
Akhirnya, memasuki perbatasan kabupaten, perasaan senang tanpa bisa di bendung menendang seperti air bah yang setiap akhir tahun selalu bertandang ke beberapa daerah di aceh, sehingga membuat rakyat kelabakan.
Memasuki jalan kabupaten, kelihatan meriah sekali, sepanjang jalan banyak pedagang kaki lima musiman yang setiap 5 tahun sekali menggelar dagangan melalui pamflet-pamflet, mengobral dagangan politiknya. Wajah-wajah baru yang mengadu peruntungannya menjadi calon legislative mungkin hal yang lumrah, namun wajah-wajah lama, yang telah merasakan bagaimana nikmatnya kekuasaan, merasa harus mencalonkan diri lagi, aneh bin tidak ajaib, tidak tahu mengapa mereka merasa dibutuhkan oleh rakyat sehingga yakin untuk dipilih kembali dan aku yakin mereka berniat menipu rakyat lagi, karena di spanduk dan pamflet-pamflet itu mereka tidak malu-malu menuliskan kalimat “pembela rakyat”, “bersih dan teruji”,”pembawa perubahan”..and soon..and soon…. Miris memang membacanya, tapi itu hak semua orang untuk mencalonkan diri untuk menjadi penipu atau menjadi caleg. Dan sekarang semuanya terserah dengan rakyat yang menggunakan hak pilihnya, apakah memang mau memilih “wajah” lama yang jelas teruji dan tidak bersih, kalau memang mereka bersih dan membela rakyat, kenapa pada waktu pembahasan tunjangan anggota dewan dengan kalkulasi naujibillah dan budget tidak masuk akal mereka tidak mengambil sikap menolak malah ikut-ikutan menggerogoti, atau rakyat akan berkata tidak untuk “wajah” lama dan lebih suka memilih “wajah” baru, yang belum teruji dan mungkin bersih.
Memasuki perkarangan rumah tua ini, menciumi tangan orang tua, menciumi pipi-pipi mungil para ponakan yang lucu-lucu, menciumi “bau” rumah yang tidak asing dan selalu menemani mimpi-mimpi tidur waktu jauh dari rumah.
“apa kabar, dek?”, sapa kawan yang ikut jadi caleg dari Partai Nasional dan selalu protes jika aku memanggil namanya tanpa embel-embel “Abang”, alasannya, karena umurnya lebih tua dari aku dan sepantasnya dia di pangggil Abang, tidak ngerti aku syndrome apalagi ini, begitu berarti baginya titel “abang”, padahal pernah kukatakan pada dia, jika hanya dengan memanggil nama bukan aku tidak hormat dan respect pada yang lebih tua, namun respect dan rasa hormat itu timbul dari tingkah laku bukan usia, jika yang lebih tuapun kurang ajar dan tidak bermoral ngapain kita harus hormat dan respect?, intinya bagiku umur bukan ukuran untuk dihormat atau respect pada orang lain. Dia juga protes mengapa ucapan selamat lebaran yang di kirim melalui sms kubalas dengan “ini kampanye ya?”, karena memang bermaksud bercanda, sebab di akhir ucapan itu terselip kalimat “calon anggota DPRA dari Partai Anu”. “Tapi aku kan jadi malu” katanya.
“Aku jadi malu”, jawaban yang membuat aku ketawa setengah mati. Malu, ini sifat yang langka karena banyak dari kita telah memuseumkan sifat ini, malu telah di Upgrade menjadi malu-malu kucing yang merupakan personafikasi sifat seorang munafik, atau malu-maluin yang merupakan sifat orang yang menghalalkan segala cara. Andai jika dia atau siapapun yang terpilih menjadi anggota DPR, DPRA atau DPRK nanti mempunyai sifat atau budaya malu, berarti dia adalah orang yang amanah, karena berbudaya malu juga merupakan aspirasi rakyat yang memilihnya, berbudaya malu membuat dia sadar bahwa dia dipilih oleh rakyat untuk bekerja dan berbakti kepada rakyat, bukannya menjadi sombong dan meninggalkan rakyat di belakang seakan-akan rakyat adalah borok sejarah yang harus di tinggalkan dan dilupakan.
Besoknya, aku diundang oleh alex, untuk ikut rapat internal DPD PRA (Partai Rakyat Aceh), jujur, sampai saat ini, aku merasa bukanlah partisan partai namun karena penasaran akan partai local ini, partai yang sering kudengar sebagai partai sosialis malah ada yang menuduh berideologi komunis, dan sungguh, mendengar nasionalisme, sosialisme dan komunisme atau apapun isme-isme yang di agungkan oleh kebanyakan orang adalah bahasa yang sangat asing bagiku, karena ideology bagiku bukan harga mati, apapun ideology kalau system yang di bangun membuat rakyat tertindas, miskin dan teralienasi oleh Negara sama saja dengan omong kosong. Karena penasaran aku memaksakan diri untuk hadir.
Kesannya biasa saja, tidak ada yang “istimewa” menyangkut sosialisme dan komunismenya mereka, namun wajib kucatat adalah orientasi pengurus partai PRA di Abdya yang sebelum Pemilihan Umum “menuntut” pendidikan politik minimal bagi caleg dan para pengurus partai atau simpatisan partai. Kenapa pendidikan politik? Karena partai dan kekuasaan tidak hanya berdimensi teknis praktis, tapi juga berdimensi kemanusiaan dan moralitas, sehingga nanti siapapun dari Partai Rakyat Aceh ini ketiban rezeki duduk di kursi kekuasaan, duduk orang yang merenungi hal-hal yang bersifat manusiawi dan meletakkan moral di kepala bukan di dengkul.
Ringkasnya, pendidikan politik adalah hal yang umum, namun menurutku, pendidikan politik bagi kebanyakan partai (dalam konteks local), disadari atau tidak hanya bersifat wacana, sebab dalam pendidikan politik tidak terbatas bagaimana berpolitik dan apa itu politik, namun teknis praktis yang berdasarkan logika kemanusiaan yang membuat para pengurus partai tenang dan rakyat terpedulikan juga merupakan bagian pendidikan politik.
Dan kawan-kawan di PRA di Abdya selalu mendorong pendidikan politik secara berkesinambungan, berdiskusi, mewajibkan para caleg untuk mengadakan pertemuan di daerah Pemilihan masing-masing dan dalam mengambil keputusan selalu di dasari one man, one vote tidak berdasarkan one man show. Entah, aku tidak tau apakah ini hanya trik politik mereka atau bukan, tapi patut kuacungkan jempol untuk apa yang dilakukan oleh kawan-kawan di PRA dan semoga saja mereka memang iklas berjuang untuk rakyat. Semoga………



Iqbal berkata,
Selasa, 13 Januari 2009 pada 0:14
ga bermaksud memuji apalagi memuja, cuma menonton dan berkomentar…..
Megatukad « The TintaMerah berkata,
Sabtu, 17 Januari 2009 pada 9:38
[...] Well… lupa mencantumkan ini sebagai welcome note untuk Iqbal, rekan lama yang pulang untuk ngumpul lagi, untuk perjudian yang bisa jadi terakhir di tahun ini. Welcome to the club, [...]
alex© berkata,
Sabtu, 17 Januari 2009 pada 9:41
Baru sadar ada postingan ini
Oke, jadi begini… ini tagihan janji lama sebenarnya. Itu sebab kenapa aku sama Ghozi bersikukuh kalo ini nggak sekedar utk kotak suara nanti. Lagipula, ini komunitas yang dibangun di level desa, Bro. Kita tak bisa membiarkan mereka, petani2 kampung dan nelayan2 itu jadi macam geng2 politikus lama yang papannya kau lihat muncul di baliho2 itu. Ngakunya politikus, tapi cuma tahu proyek saja…. buta politik malah mereka
Welcome to the club, Bro. Kalo ada apa2 tak berkenan di hati nanti, silakan dicaci-maki, macam awak caci-maki aktivis2 lama yang buncit cam babi perutnya sekarang
farisi berkata,
Jumat, 27 Februari 2009 pada 16:15
ngomongin rasa malu, sepertinya masih ada rasa malu setiap orang sekarang, mungkin hal yang memalukan itu aja ya berbeda, klo dulu orang berbuat salah itu malu, sekarang malah berbuat baik orang jadi malu.
mungkin akibat bahasa candaan kali ya, ketika parte mengajak kita nonton filem bokep, pake obat2 telarang, dan kita menolak, kawan-kawan langsung bilang, “sok Alim kamu”,dan yang lain ngetawain sabil ngelecehin.
tapi itu menurut aq sih, belon pernah bikin penelitian ttg “malu” he..he.he
salam kenal Iqbal
yth alex-aceh.
jangan bilang2 buncit donk, tersinggung ini
*jambak alexaceh*